Home Aswaja Tasawuf Asal-Usul Kata “Sufi” (1)

Asal-Usul Kata “Sufi” (1)

0
0

Asal-usul kata sufi

Oleh: Ahmad Dairobi

Keberadaan kata “sufi” atau “tasawuf” memang cukup aneh. Kata ini menjadi kata kunci dari arus gerakan religius yang mendunia. Tapi, tak ada yang bisa memastikan dari mana kata-kata itu muncul, dan siapa pula pencetusnya?

Kata “sufi” ataupun “tasawuf” tidak pernah ada dalam kamus hadis, dan tidak pernah muncul pada masa Sahabat Rasulullah SAW. Ada yang menengarai bahwa istilah sufi mulai masyhur dipakai pada Abad Kedua Hijriah. Ada pula yang menengarai pada Abad Ketiga. Yang jelas, sebelum menjadi istilah yang masyhur itu, kata “sufi” ini telah mengalami serangkaian proses yang mungkin sangat panjang. Tokoh pertama bergelar sufi yang dikenal oleh sejarah adalah Abu Hasyim ash-Shufi (w. 150 H). Ia adalah tokoh zuhud di Bagdad yang dikagumi banyak ulama, di antaranya adalah Sufyan ats-Tsauri.

Sebelum Abu Hasyim, kemungkinan besar kata “sufi” sudah mulai banyak dipakai. Ibnu Hajar al-Haitami menyebutkan bahwa Imam Hasan al-Bashri (w. 110 H) pernah bercerita, “Aku melihat seorang sufi di tempat tawaf. Akhirnya, aku beri dia sesuatu, tapi Ia berkata: Aku punya empat daniq (daniq=1/6 dirham) yang cukup untuk kebutuhanku.”

Mengenai latar belakang kemunculan istilah “sufi” itu di tengah-tengah umat Islam, Imam al-Qusyairi memberikan sebuah analisis yang setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran mengenai asal muasal kata-kata ini. Kata “sufi” menurutnya muncul sebagai kelanjutan dari istilah “Sahabat”, “Tabi’in”, dan “Tabiut-tabi’in.”

Setelah Rasulullah SAW wafat, maka gelar paling  mulia yang disematkan kepada sebuah generasi adalah “Sahabat”. Kemudian orang-orang yang menututi mereka disebut “Tabi’in”. Dan generasi berikutnya disebut “Tabiut-tabi’in”. Setelah itu orang-orang yang tekun dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ajaran agama disebut dengan julukan “az-Zuhhâd” (kelompok ahli zuhud) atau “al-‘Ubbâd (kelompok ahli ibadah).

Pada fase ini, kata Imam al-Qusyairi, banyak klaim terhadap gelar az-Zuhhâd dan al-‘Ubbâd. Aliran-aliran sesat mengklaim bahwa merekalah az-Zuhhâd dan al-‘Ubbâd itu. Hal ini kemudian mengilhami orang-orang zuhud dari kalangan Ahlusunah wal-Jamaah untuk membuat istilah tersendiri, yaitu “tasawuf” atau “sufi”.

Pemetaan yang dilakukan oleh Imam al-Qusyairi tentang fase kelahiran istilah sufi ini bisa menjadi salah satu peta petunjuk untuk mengungkap misteri kelahiran tasawuf. Sebab beliau merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangna ilmu tasawuf. Namun demikian, pendapat beliau itu belum bisa menjadi kesimpulan yang final. Karena bila digabung dengan riwayat mengenai penggunaan kata sufi oleh Hasan al-Bashri dan gelar sufi yang disematkan kepada  Abu Hasyim, maka masih ada kerancuan mengenai pemetaan periodenya. Sebab, awal abad kedua yang ditengarai sebagai kelahiran istilah sufi itu masih merupakan masa perpindahan dari masa Tabi’in ke Tabiut-tabi’in. Hasan al-Bashri termasuk generasi Tabi’in, karena konon beliau pernah bertemu dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib RA.

Jika mengikuti kronologi yang disampaikan oleh Imam al-Qusyairi ini, berarti tasawuf, secara historis setali tiga uang dengan zuhud. Sufi merupakan istilah khusus yang dilahirkan oleh ulama-ulama Ahlusunah wal-Jamaah untuk menyebut kelompok zuhud. Tasawuf hanyalah istilah baru untuk suatu yang sudah ada. Inti dari tasawuf adalah ajaran untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan dipraktikkan dengan sungguh-sungguh oleh para Sahabatnya, khususnya kalangan Ahlush-Shuffah.

Kesimpulan bahwa inti dari amalan tasawuf telah dipraktikkan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, hal itu hampir menjadi kesepakatan di antara para penulis tentang dunia tasawuf. Ada banyak sahabat yang mengilhami kalangan sufi, misalnya Khulafaur Rasyidin, Shuhaib bin Sinan, Abu Dzar al-Ghifari, Abud-Darda’, dan lain sebagainya.

Namun demikian, masih ada kelompok-kelompok tertentu yang menganggap tasawuf sebagai ajaran baru yang mengada-ada atau bid’ah yang tercela. Kelompok yang sinis terhadap tasawuf, umumnya berasal dari kalangan wahabi dan yang sepaham. Ada di antara mereka yang menganggap bahwa benih tasawuf lahir di Kufah melalui kelompok at-Tawwâbîn atau al-Bakkâ’în, yakni orang-orang Syiah yang meratapi kematian al-Husain di Karbala, dan menampakkan penyesalan yang mendalam terhadap diri mereka kerana tidak mampu membela cucu Rasulullah SAW itu dari keganasan pasukan Ibnu Ziyad.

Di antara argumentasi kelompok Wahabi yang menyatakan bahwa tasawuf lahir dari Syiah adalah pernyataan Ibnun-Nadim dalam al-Fihrisat, bahwa Jabir bin Hayyan (w. 208) yang dikenal dengan gelar ash-Sfî diklaim oleh orang-orang Syiah dan filsuf sebagai salah satu tokoh penting mereka.

Tuduhan bahwa sufi lahir dari rahim Syiah semacam di atas merupakan tuduhan yang lemah dari segi argumentasi. Sebab, Ibnun-Nadim tidak pernah menyatakan bahwa Jabir bin Hayyan adalah orang pertama yang bergelar sufi, apalagi sebagai pencetus istilah sufi. Sementara, pernyataan mereka bahwa tasawuf lahir di Kufah dari benih kelompok at-Tawwâbîn justru bertentangan dengan pernyataan Ibnu Taimiyah, ulama yang menjadi idola mereka. Ibnu Taimiyah dalam Majmû‘ulFatâwâ menyatakan bahwa tasawuf pertama kali muncul di Basrah.

Ihsan Ilahi Zhahir, tokoh Wahabi di Lahore, Pakistan, yang sangat benci terhadap tasawuf, dalam bukunya, at-Tashawwuf: al-Mansya’ walMashâdiq, banyak menyebutkan pengaruh timbal balik antara Syiah dan tasawuf –menurut asumsinya. Bahkan, dengan tanpa risih ia mendukung pernyataan orang-orang Orientalis Barat bahwa paham tasawuf lahir dari ramuan paham keagamaan Yahudi, Majusi, Nasrani, Budha, Hindu dan filsafat Yunani.

Dalam bukunya itu, secara tersirat Zhahir juga menyatakan bahwa keputusan Ibrahim bin Adham meninggalkan istana untuk menempuh pengembaraan tasawufnya terpengaruh oleh apa yang dilakukan oleh Budha. Menyatakan bahwa Ibrahim bin Adham terpengaruh oleh Budha karena sama-sama meninggalkan istana, sama halnya dengan menyatakan bahwa Islam terpengaruh oleh filsafat Aristoteles karena sama-sama menyatakan bahwa Tuhan itu satu.

Dalam hal ini kalangan Wahabi rupanya banyak meniru cara pandang Orientalis dalam mengamati dan menilai tasawuf. Hanya karena adanya satu titik kesamaan dari seribu titik yang berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain, mereka sudah berani menyimpulkan bahwa kelompok yang satu terpengaruh atau terlahir dari kelompok yang lain, tanpa dilandasi oleh data-data sejarah sedikitpun. Ini tentu merupakan kesalahan berpikir yang parah.

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *