Home Aswaja Valentine’s Day, Nafsu Berkedok Cinta

Valentine’s Day, Nafsu Berkedok Cinta

0
0

ilustrasi-cinta-an-nafsu_20161105_133759Tak terasa, kita sudah menginjakkan kaki di bulan kedua dalam putaran tahun 2018, yaitu bulan Februari. Sepintas tak ada yang istimewa dari bulan ini, namun bagi kaula muda yang terjerembab dalam liang asmara, bisa jadi bulan ini adalah bulan yang di tunggu-tunggu. Sebab pada angka 14 di bulan Februari, adalah hari yang disebut sebagai hari kasih sayang; Valentine’s Day.

Pada hari itu, para muda-mudi bersuka cita merayakannya. Akan mudah kita jumpai di linimasa media sosila, meme-meme romantis untuk pasangan masing-masing. Bagi yang sedang dilanda kasmaran, memang sengaja menunggu hari valentine ini untuk mengutarakan perasaan yang bergejolak di hatinya. Katanya biar lebih romantis. Adapun bagi mereka yang sudah lama menjalin kasih, mereka akan saling bertukar kado dengan pasangan masing-masing, memberikan bunga, memberikan cokelat dan benda-benda lain untuk mengkongkritkan apa yang sedang membara di dada. Bahkan yang lebih memiriskan lagi, bagi para perempuan ada yang rela menyerahkan kesucian dirinya pada kekasihnya saat malam perayaan hari Valentine. Sebagai bukti bahwa cintanya pada sang kekasih benar-benar tulus. Wal iyaadzu billaah.

Asal Usul Valentine Day

Sebenarnya masih ada silang pendapat tentang asal usul hari Valentine. Namun yang paling masyhur menyebutkan hari Valentine ini berasal Romawi Kuno. Bahwa salah seorang Kaisar Romawi bernama Claudius II melarang para pemuda menikah agar mereka tidak lemah saat menghadapi musuh. Namun uskup Valentine melanggar aturan itu. mereka diam-diam menikahkan seorang pemuda dengan kekasihnya di dalam gereja. Ia kemudian dihukum mati setelah Sang Kaisar mengetahui pernikahan itu. Saat menunggu eksekusi matinya di dalam penjara, pria asal Genoa itu jatuh cinta lagi pada anak gadis seorang sipir penjara. Sebelum dieksekusi mati, pria itu masih sempat menulis surat pada gadis yang baru dicintainya. Dalam surat cinta itu ditutup dengan kalimat “Dari Velentinmu”.

Kisah lain menyebutkan bahwa hari Valentine ini berasal dari tradisi Yunani Kuno. Dalam sejarah kalender Athena kuno menyebutkan, bahwa mulai dari pertengahan bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari di sebut sebagai bulan Gamelion. Yaitu bulan yang di buat untuk merayakan pernikahan suci antara Dewa Zeus dan Dewi hera.

Hari Valentine juga bisa dilacak dalam keyakinan metodologi Romawi Kuno. Tanggal 13-15 Februari dikenal sebagai hari Lupercalia, sebuah perayaan untuk dewa kesuburan. Pada tiga hari itu, orang-orang Romawi berkumpul untuk menyaksikan upacara penyembelihan dua ekor kambing jantan dan seekor ajing.

Kemudian seorang pria setengah telanjang berlarian di jalan. Di sisi kanan kiri jalan, para gadis muda berjejer rapi. Gadis-gadis itu siap menerima cambukan dari si pria menggunakan tali yang terbuat dari kulit kambing yang baru disembelih. Orang-orang Romawi terus melakukan tradisi itu hingga tahun 496 Masehi. Mereka percaya, gadis-gadis itu akan menjadi subur setelah di cambuk.

Pada hari terakhir, yaitu tanggal 15 Februari, mereka kembali berkumpul di kaki bukit Platine. Konon, dalam sebuah gua di kaki bukit itu, hidup seekor serigala betina yang menyusui Romulus and Remus, pendiri kota Roma dalam kepercayaan Romawi.1

Islam dan Valentine Day

Perlu diketahui, bahwa sejatinya islam sangat mementingkan sebuah identitas. Hal ini menjadi prinsip karena memang seharusnya umat islam bangga dengan identitas keislamannya. Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti tentang pentingnya memegang teguh identitas islam. Beliau tidak ingin umatnya latah terhadap tradisi-tradisi di luar islam. Rasulullah r memerintahkan umatnya memelihara jenggot dan memotong kumis, semata agar kita tidak sama dengan orang musyrik yang suka memelihara kumis dan memotong jenggot. Rasulullah SAW bersabda:

 خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ  وَفِّرُوا اللِّحَى  وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot kalian dan pendekkanlah kumis kalian”.2

Begitu juga Rasulullah SAW mensunnahkan berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram agar kita tidak terkesan mencaplok tradisi Yahudi yang biasa berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

 وروى عن بن عباس أنه قال صوموا التاسع والعاشر وخالفوا اليهود

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “berpuasalah kalian pada tanggal sembilan dan sepuluh (bulan Muharram), dan jangan menyerupai kaum Yahudi (yang hanya berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram saja)”.3

Dalam hadis masyhur Rasulullah SAW bersabda:

 عن ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka”.4

Oleh karenanya, dalam hukum fikih ulama menetapkan aturan yang ketat dalam masalah umat islam yang latah meniru-niru tradisi non muslim, dalam hal ini ikiut-ikut merayakan hari Valentine. Si peniru dihukumi kafir apabila sampai ada rasa rela dan condong terhadap kekafiran, atau ada unsur kesengajaan merayakan syiar mereka. Sebab rela terhadap kekafiran adalah kekafiran. Apabila tidak ada unsur-unsur tersebut, akan tetapi sebatas ikut-ikutan saja, maka dihukumi haram. Yang paling ringan adalah hukum makruh jika memang hanya kebetulan menyerupai tradisi mereka tanpa ada maksud-maksud tertentu.5

Dari urayan di atas, sudah seharusnya umat islam tidak perlu latah merayakan hari Valentine yang penuh dengan kemaksiatan dan kekufuran. Dalam kenyataannya, bukanlah cinta sejati yang kita temukan, akan tetapi nafsu yang dikemas lalu dibungkus dengan kata cinta.dengan kata lain, peringatan hari Valentine adalah perayaan nafsu yang berkedok cinta.

Sudah saatnya kita bangga dengan identitas kita sebagai umat Nabi Terbaik. Dan puji syukur harus kita haturkan karena kita termasuk dalam golongan umat Nabi Terbaik, dengan cara tidak ikut-latah merayakan hari Valentine ini. Bagi umat islam tidak perlu adanya hari kasih sayang semacam ini, karena setiap hari umat islam memang dituntut untuk menyebarkan kasih sayang terhadap sesama. Bahkan termasuk bagian dari iman adalah mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ

“tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.6

Baqir Madani/Annajah.co

Catatan Akhir

  1. dari berbagai sumber
  2. Shahih al-Bukhari 5892
  3. Sunan Tirmidzi, vol 3/128
  4. Sunan Abu Daud, vol 4/78
  5. Bughyatul Musytarsyidin vol 1/528
  6. Riyadus Shalihin vol 1/144

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *