Home Syiah Konsep Imamah dan Kebingungan Syiah

Konsep Imamah dan Kebingungan Syiah

0
0

Konsep Imamah dan Kebingungan SyiahPerihal Syiah mensakralkan dan menjunjung tinggi tahta kepemimpinan adalah fakta usang yang semua teolog sepanjang zaman sepakat tentang itu. Apalagi, orang-orang internal Syiah sendiri mengakui urgensitas imamah dalam ajaran mereka, sampai-sampai sebagian mendaku pangkat imamah lebih bergengsi dari pada nubuah.

Menurut keyakinan Syiah, imamah adalah SK langit yang dipilih langsung oleh Allah I dan diwariskan turun-temurun oleh imam berkuasa kepada pemimpin berikutnya. Akan tetapi anehnya, jika betul ada penunjukan dari imam sebelumnya, mengapa Syiah sering beda pendapat dalam menentukan imam berikutnya.

Pasca wafatnya Sayidina Hasan, Syiah berbeda pandangan tentang pengganti beliau, apakah putra beliau, al-Hasan al-Mutsanna, atau saudara beliau, Sayidina Husain. Begitu pula sepeninggal Sayidina Husain, Syiah kembali terlibat perbedaan pandangan tentang imam berikutnya; antara Muhammad bin al-Hanafiyah (Syiah al-Kisaniyah), dan Ali Zainal Abidin (Syiah Itsna ‘Asyariyah). Lalu setelah kepergian Ali Zainal Abidin, Syiah kembali berbeda pendapat soal pemangku imamah berikutnya; sebagian menyatakan Zaid bin Ali Zainal Abidin (Syiah Zaidiyah), dan yang lain menyatakan Muhammad al-Baqir yang kemudian diwariskan kepada Jakfar ash-Shadiq.

Baca Juga: Beginikah Syiah Mengimani Kitab Allah SWT.?

Ketika Jakfar ash-Shadiq mangkat, perpecahan kembali menimpa Syiah. Sebagian meyakini putra beliau, Ismail, sebagai penerusnya, dan melahirkan Syiah Ismailiyah, dan yang lain meyakini Abdullah al-Afthah, Muhammad bin Jakfar ad-Dibaj, dan Musa al-Kadhim. Musa al-Kadhim inilah yang dipilih oleh mayoritas Syiah Itsna ‘Asyariyah. Namun, pasca wafatnya Musa al-Kadhim, Syiah Itsna ‘Asyariyah sendiri terlibat konflik internal; mayoritas meyakini Ali Ridha, dan sebagian kecil meyakini Ahmad bin Musa bin Jakfar.

Baru setelah Ali Ridha, Syiah Itsna ‘Asyariyah agak kompak dalam menentukan imam berikutnya, yaitu Muhammad al-Jawwad, lalu Ali bin Muhammad al-Jawwad, kemudian al-Hasan al-‘Askari, dan terakhir Muhammad al-Muntadhar yang diklaim sebagai Imam Mahdi.

Perbedaan-perbedaan di atas adalah bukti nyata igauan Syiah tentang konsep imamah, dan kebingungan mereka dalam mengaplikasikan ajaran mereka sendiri.

Saharudin Yusuf/Annajah.co

tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *