Home Tsaqafah Kondisi Jazirah Arab Masa Pra-Islam (1)

Kondisi Jazirah Arab Masa Pra-Islam (1)

0
0

Jazirah Arab, dari sebelah barat dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai, dari sebelah timur dibatasi teluk Arab, bagian selatan dibatasi sebagian besar negara Irak dan laut Arab yang bersambung dengan lautan India, sebelah utara dibatasi negara Syam dan sebagian kecil dari negara Irak. Panjang semenanjung ini melebihi seribu kilometer, demikian juga luasnya sampai seribu kilometer.

Selain itu pula, karena jaraknya berjauhan dan tandus yang luar biasa, daerah ini tak memiliki sungai. Sulit menemukan air bagi yang ingin menetap pada satu lokasi, lantaran daerah Arab terdiri dari gunung-gunung, daratan tinggi, lembah-lembah serta alam yang sangat gersang.

Tapi meski demikian, bangsa Arab masih bisa mengadakan kontak dengan dunia luar, karena disebelah barat merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan jalan ke benua Eropa, dan sebelah timur adalah jalan masuknya bangsa-bangsa non-Arab. Karena letak geografis yang demikian maka arah utara dan selatan Jazirah Arab menjadi tempat berlabuh kapal dari berbagai negara dengan budaya yang berbeda-beda.

Orang Arab di Jazirah ini adalah keturunan Yasjub bin Yarub bin Qahthan (Arab Âribah), yang kebanyakan tinggal di Yaman. Kemudian juga keturunan Nabi Ismail u yang diutus pada tahun 1850 SM (Arab Musta’ribah), yang bertempat tinggal di Hijaz.1 Penulis akan mengungkapkan kondisi aktivitas dan kreativitas yang dilakukan oleh orang Arab pra-Islam dalam bidang-bidang khusus.

Rutinitas Perniagaan

Jazirah Arab pada masa pra-Islam merupakan daerah lalu lintas perniagaan atau perdagangan yang bisa diseberanginya melalui Mesir atau teluk Persia.2 Perniagaan atau perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jalur-jalur perdagangan tidak bisa dikuasai begitu saja, kecuali bila sanggup memegang kendali keamanan dan perdamaian disana. Sementara kondisi yang aman seperti ini akan tidak terwujud kecuali hanya pada bulan-bulan suci. Pada saat itulah dibuka pasar-pasar Arab yang sangat terkenal seperti; Ukazh, Dzil Majaz, Majinnah dan lain-lain.3

Pada masa jahiliah, bangsa Arab keturunan Qahthan yang diam di Yaman sudah sangat maju dalam urusan perniagaan. Sedangkan mereka yang tinggal di dusun-dusun sangat maju dalam hal pertanian. Penduduk Yaman berniaga barang-barang hasil bumi mereka sendiri, seperti makanan, pakaian, dan lainnya.

Menurut sebagian pakar, kemajuan perdagangan di Yaman ada pada tangan dua bangsa Arab keturunan Qahthan: ialah Arab Sabaiyah dan Himyariyah. Kemajuan perdagangannya sangat pesat, sehingga sampai meluas ke Habasyi, Mesir, Syam, dan negara lainnya. Kemudian kemajuan bangsa Arab Hijaz keturunan Nabi Ismail u jika dibandingkan dengan kemajuan bangasa Arab Yaman, sangat jauh sekali, lantaran sukarnya jalur menuju Hijaz. Tak seorangpun yang berani mengembara kesana. Sedikit demi sedikit bangsa Arab di Hijaz dapat pula meraih kemajuan yang mereka peroleh dalam perniagaan.4

Kemajuan mereka tak kalah dari kemajuan bangsa Arab di Yaman (keturunan Qahthan). Perniagaan dan perdagangan mereka sangat pesat keluar negeri. Perdagangan mereka juga sampai ke negeri Yaman, Syam, dan negeri-negeri yang penting dalam perdagangan. Di samping itu, mereka dapat berkompromi dengan bangsa Arab Persia, India, Mesir, Irak. Mereka dapat pula mendirikan pasar-pasar untuk melakukan perniagaan atau perdagangan.5

Bidang Perindustrian

Tentang perindustrian atau kerajinan, orang Arab tak pernah mengenalnya. Kebanyakan hasil kerajinan yang ada di Jazirah Arab hanya berupa jahit-menjahit, menyamak kulit dan lain sebagainya. Sedangkan khusus para wanita Arab berfokus menangani pemintalan bulu saja.6

Di bidang ini, bangsa Arab Yaman juga dapat dikatakan lebih mendahului dari pada Arab yang lain, sebab pada masa pra-Islam (jahiliah) belum ada yang dapat menandinginya. Mereka mendirikan gedung-gedung besar, mendirikan bangunan-bangunan yang indah, dan memperbaiki kota-kota yang mengalami kerusakan. Hal ini bisa kita buktikan dengan melihat bekas-bekasnya di negara Yaman sekarang.

Sejarawan Islam menyatakan bahwa setelah diselidiki lebih lanjut kota-kota yang ada di negara Yaman seperti Shan’a dan Ma’rib, maka disana terdapat beberpa peninggalan yang sangat berharga yang bisa dijadikan bukti kemajuan bangsa-bangsa yang ada di dunia. Seperti peninggalan di sekitar Sungai Nil yang membuktikan kemajuan bangsa Mesir masa Firaun, juga peninggalan yang ada di sungai Furat menunjukkan kemajuan bangsa Babilon.

Kondisi Pertanian

Jazirah Arab sesungguhnya tidak hanya berupa gurun sahara yang luas, akan tetapi juga tanah-tanah subur yang telah ada sejak ratusan tahun. Adapun tanah-tanah yang subur berada di beberapa negara di bagian pantai selatan Jazirah Arab; seperti Yaman, Hadhramaut, dan Ahsa.

Selain itu, Hijaz lebih unggul dibanding daerah lain, karena kebanyakan bukit pasir yang ada disana cocok untuk dibuat lahan pertanian. Di daerah ini banyak perkampungan kabilah-kabilah Arab yang dikelilingi oleh kebun-kebun. Kemudian di lereng-lereng bukit tumbuh rumput-rumput dan semak belukar kecil untuk makanan hewan ternak. Apalagi Hijaz memiliki kota Thaif yang amat masyhur kesuburan tanahnya dan buah-buahanya.7

Di bagian tengah terdapat negeri Najd dan Yamamah penghasil gandum terbesar. Bahkan hasil gandumnya dapat mencukupi kebutuhan penduduk Arab seluruhnya. Apalagi setelah tanah ini di eksploitasi dengan baik. Pada Abad ke-6 dan ke-7 sebelum masehi, gandum dari dua wilayah ini lebih melampaui hasil yang di dapat pertanian di seluruh benua Eropa masa itu. Jadi, sebab keistimewaan daerah Arab yang berbeda ini hasil buminya pun berbeda-beda. Bersambung ke Kondisi Jazirah Arab Masa Pra-Islam (2)

 

Chairul Hayyan/Annajah.co

Referensi:

  1. Sami bin Abdullah bin Ahmad, Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, 45, Kaysa Media, Jakarta, Cet. 1 2007 H.
  2. Muhammad Husen Haikal, Hayâtu Muhammad, 8, P.T. Pustaka Litera Antar Nusa, Bogor.
  3. Philip K. Hitti, Histori of The Arabs, 22, P.T. Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, Cet. 1, 1425 H/2005M.
  4. Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, as-Sirah Nabawiyah fi Dhaui Mashâdiril-Ashliyah, 67, Qisthi Press, Jakarta.
  5. Ahmad Hatta, dkk, The Great Story of Muhammad, 42, Maghfirah Pustaka, Jakarta Timur, Cet. II, 2002 H.
  6. Dr. Ibrahim Ali Saud, Abâthil Yajibu An Tumha minat-Târikh, 24-30, al-Maktabatul-Islami, Bairut, Libanon.
  7. K.H. Moenawwar Cholil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, I/24, P.T. Bulan Bintang, Jakarta.
tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *