Home Aswaja Akidah Tragedi Karbala Versi Sunni

Tragedi Karbala Versi Sunni

0
0

TRAGEDI KARBALA VERSI ISLAMSetelah gugurnya Sayyidina Husain RA di padang Karbala 6 H, sejumlah pengagum berat sosok beliau menyesal secara mendalam akan tragedi itu dengan cara melembagakan dendam kepada siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan tersebut sehingga saat itu muncul semacam semboyan “Kullu ardin karbala kullu yaumin asyura”: Setiap bumi adalah karbala setiap hari adalah asyura’.

SEJARAH

Tragedi Karbala merupakan  salah satu tragedi yang terjadi di kubu Islam, namun oleh sejumlah pengagum Sayyidina Husain RA menyalahgunakan tragedi ini, mengapa tidak, sebab dalam sejarah tragedi Karbala ketika Yazid bin Muawiyah menggantikan ayahnya Muawiyah, saat itu penduduk Iraq yangdi dominasi oleh pengikut Ali RA menulis surat kepada Husain RA untuk meminta beliau berpindah ke Iraq guna menolak Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah, mereka berjanji akan membaiat Husain RA sebagai khalifah serja turut serta menyiapkan pasukan untuk menolak pasukan Yazid bin Ziyad, karna mereka tidak menginginkan Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah.

Para sahabat pun melarang beliau memenuhi ajakan mereka, salah satunya sahabat Ibnu Abbas, khawatir akan terjadi sesuatu yang telah menimpa sepupu beliau Muslim bin Aqil, namun akhirnya beliau nekat berangkat dengan alasan telah melakukan Istikharah, di pihak lain Ubaidilah bin Ziyad bersama pasukannya yang diutus oleh Muawiyah untuk menolak pergolakan yang ada di Iraq, sehingga bertemulah antara Sayyidina Husain dan Ubaidilllah bin Ziyad hingga terjadilah pergolakan, pergolakan itu sendiri dipicu oleh sejumlah orang yang memanfaatkan Sayyidina Husain RA, sementara orang-orang  Iraq yang berjanji untuk mendukung dan membantu beliau malah melarikan diri meninggalkan Husain RA hingga akhirnya terbunuhlah Sayyidina Husain sebagai seorang yang terdzalimi. Kepala beliau lalu dipenggal dan dibawa ke hadapan  Ubaidillah bin Ziyad  kemudian ditaruh dalam bejana, lalu ia menusuk-nusuk pedangnya ke hidung, mulut Sayyidina Husain t, Anas bin malik yang melihat hal itu mengatakan :

“Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karna aku pernah melihat mulut Rasulullah SAW mencium mulut itu!” mendengar kata-kata Anas, Ubaidillah pun marah lalu mengatakan, “Seandainya aku tidak melihatmu sebagai seorang tua yang telah renta dan akalnya yang sudah rusak, maka pasti kepalamu akan ku penggal!” dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Hafshah binti Sirrin dari Anas RA dinyatakan bahwa Ubaidillah RA menusuk-nusukan pedangnya ke hidung Sayyidina Husain ra.

 TITIK TEMU

Riwayat di atas merupakan salah satu riwayat yang menjelaskan sejarah tragedi karbala, sehinggga sejumlah kalangan yang ghuluw  terhadap Sayyidina Husain RA menganggap  tragedi Karbala sebagai  hari berkabung atas kematian Sayyidina Husain ra, mereka akan mengungkapkan kesedihan-Nya dengan menangis seraya menampar-nampar wajah mereka sendiri, merobek-robek pakaian mereka, hingga tak segan-segan melukai diri mereka sendiri dengan berbagai alat yang bisa melukai, mereka menganggap dengan berprilaku seperti itu bisa turut merasakan kesedihan yang dialami cucu Rasululllah SAW. Hal ini tidaklah benar sebab tidak ditemukan dalam islam meratapi belasungkawa dengan melukai sendiri. Dalam hadis Rasulullah SAW menjelaskan terhadap prilaku yang bukan mencerminkan sebagai seorang muslim:

Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul muka, merobek-robek baju, dan berteriak seperti orang jahiliah”  (HR. Muttafaqun alaih).

Ternyata belasungkawa juga pernah dilakukan oleh Sayyidina Hasan (kakak Husain) untuk mengenang beliau,namun tidak dilembagakan seperti yang sampai kini secara berlebihan, bagi mayoritas muslimin menjadikan peristiwa tersebut dianggap sebagai bagian dari masa lampau yang cukup dikenang semangat juangnya (untuk diteladani) tanpa memendamkan rasa dendam, seperti kita mengenang tragedi yang menimpa paman Sayyidina Hamzah yang gugur dalam perang uhud.

Mereka (penganut syiah) juga menjadikan tempat Karbala adalah tempat yang paling suci dalam islam dan lebih agung dari pada Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis, sebagaimana dijelaskan dalam kitab mereka “Mashabihul Janan” karya syaikh Abbas al-Kasysyani hal 360.

Hal ini tidaklah benar, karena Allah SWT berfirman:

سُبحانَ الَّذي أَسرىٰ بِعَبدِهِ لَيلًا مِنَ المَسجِدِ الحَرامِ إِلَى المَسجِدِ الأَقصَى الَّذي بارَكنا حَولَهُ لِنُرِيَهُ مِن آياتِنا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّميعُ البَصيرُ

“Maha suci Allah swt, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Rasulullah) pada suatu malam (malam isra’) dari al Masjidil Haram (Makkah) ke al Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami, sesungguhnya dia Maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. al-Isra’ [15]: 01).

Demikian pula sabda Rasulullah SAW: “Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim telah meminta kepada-Mu kebaikan untuk negeri Makkah, maka aku (juga) meminta kepadamu kebaikan untuk negeri Madinah seperti yang diminta Ibrahim AS ”. (lihat kitab Fadhail Madinah” karya al-Jundi).

Penganut Syiah juga menganggap hari Asyura’ sebagi hari penuh kesialan, sehigga mereka menunda berbagi aktivitasnya , hal ini tidaklah benar, karena Allah SWT telah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهورِ عِندَ اللَّهِ اثنا عَشَرَ شَهرًا في كِتابِ اللَّهِ يَومَ خَلَقَ السَّماواتِ وَالأَرضَ مِنها أَربَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesunggunhnya jumlah bulan menurut Allah swt ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah swt pada waktu dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram……” (QS. At-Taubat [9]: 36).

Dalam berbagai kitab tafsir menyebutkan bahwa empat bulan itu salah satunya adalah bulan Muharram, disebut bulan haram karena dalam bulan tersebut aman dari berbagai peperangan dan pembunuhan. Allah SWT menyebutkan empat bulan mulia salah satunya adalah bulan Muharram, melakukan segala hal kebaikan dalam bulan itu tentu nilainya lebih sangat mulya dari pada bulan lain. Jadi, hal ini sangat tidak relevan sama sekali.

MENYIKAPI

Seharusnya sebagai umat Islam yang cinta pada Nabi dan keluarga Nabi menyikapi tragedi Karbala ini, merupakan sejarah yang patut untuk diteladani sebagai semangat perjuangan. Sangat banyak hal yang bersejarah dalam bulan Muharram, lebih-lebih tanggal 10 Muharram, Allah swt menyelamatkan Nabi Musa as dari Raja Fira’un dan bala tentaranya, sebagai wujud syukur kaum Israil melakukan puasa sehingga dikenal puasa Asyura’. Rasulullah pun menyuruh umatnya untuk berpuasa ketika hari Asyura’. Hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas : “Sewaktu Rasulullah SAW tiba di madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi shaum pada hari Asyura’. Beliau bertanya, “Apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang Allah SWT telah selamatkan Bani Israil dari musuh mereka, kemudian nabi Musa AS shaum. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “ Aku lebih berhak terhadap nabi Musa as dari kalian (orang Yahudi)”. Kemudian beliau shaum dan memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa pada hari tersebut”. (HR. Bukhari Muslim).

Fajar Shodiq/Annajah.co

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *