Home Wahabi Koreksi Terhadap Ajaran Akidah Wahabi

Koreksi Terhadap Ajaran Akidah Wahabi

0
0

Ajaran Aqidah WahabiDewasa ini Wahabi semakin gencar menyebarkan akidahnya di tengah-tengah masyarakat. Bahkan menurut sebagian pakar, wahabi telah berhasil mendominasi di sebagian daerah di Indonesia. Masyarakat pun banyak yang tergiur dengan ajakan mereka. Hal ini dipicu oleh ketidak pahaman mereka tentang akidah sesat yang diajarkannya. Oleh karena itu, kru Buletin Tauiyah, Moh. Faqih dan Luthfi A. Tsani, melakukan wawancara bersama Ust. Qoimuddin. Seorang ulama yang bermukim di komplek Pondok Pesantren Darul Lugoh Wadda’wah, Bangil, Pasuruan. Berikut adalah kutipan dari wawancara kami.

Perbincangan mengenai paham Wahabi mungkin bukan hal yang asing di telinga masyarakat. Banyak sekali buku-buku, artikel ataupun video yang beredar dengan mengangkat tema seputar Wahabi. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang mengira bahwa perbedaan antara Sunni-Wahabi hanya seputar tahlil dan tawasul saja, sebab dua hal inilah yang memang sering diperdebatkan, padahal sebenarnya masih banyak sekali paham-paham Wahabi yang melenceng dari garis ajaran Ahlussunah. Nah, tulisan ini, insya Allah, akan mengupas secara singkat tentang akidah pokok Sekte Wahabi.

Namun sebelum membahas akidah mereka, penulis rasa kita perlu untuk terlebih dahulu mengetahui siapakah Wahabi di Indonesia. Agar tulisan ini lebih dipaham dan dijadikan benteng dari aliran-aliran yang sepaham dengan Wahabi.

Baca Juga: Kita Harus Tegas Anti Syiah,Wahabi Dan Liberal

Sebenarnya untuk menentukan Wahabi di Indonesia sangat sulit sekali. Sebab mereka tidak berani menampakkan jati diri yang sebenarnya dan mengaku bahwa mereka adalah aliran Wahabi yang saat ini sedang mendominasi Saudi Arabia. Namun kendati demikian kita tetap bisa mengenal jati diri mereka dengan melihat ciri-ciri dari aliran ini. Ciri-ciri yang sangat menonjol adalah mudah menuduh bid’ah bahkan kafir bagi orang-orang yang melakukan amaliah seperti tawasul dan tahlil. Jadi, setiap aliran yang memiliki paham demikian maka hampir dapat dipastikan bahwa mereka itulah pentolan-pentolah ajaran Abdullah bin Abdil Wahab yang saat ini lebih akrab dikenal dengan julukan Wahabi.

Terkait dengan Akidah, Wahabi membagi Tauhid menjadi tiga. Pembagian Tauhid seperti ini tidak pernah dibahas sebelumnya oleh Ulama Salaf. Paham ini baru muncul di abad ke-7 Hijriah yang pemikirannya diprakarsai oleh Ibnu Taimiyah. Kemudian pada abad ke-12 Hijriah paham ini kembali dihidupkan oleh Muhammad bin Abdil Wahab.

Macam-macam Tauhid itu adalah Tauhid Uluhiyah(hanya menyembah Allah), Tauhid Rububiyah (meyakini bahwa Allah yang memelihara seluruh alam) dan Tauhid asma’ wa as-Sifah (tauhid yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah).

Imbas dari pembagian tauhid ini sangat fatal sekali, sehingga mereka mengafirkan pelaku tawasul dengan dalih bahwa tauhid mereka tidak lengkap. Mereka menuduh bahwa pelaku tawasul tidak ber-Tauhid uluhiyah lantaran menyembah orang-orang saleh yang dijadikan objek tawasul.

Padahal sebenarnya tidak demikian. Pelaku tawasul itu sama sekali tidak menyembah selain Allah. Hanya saja mereka menjadikan orang-orang saleh sebagai mediator agar doanya mudah diterima oleh Allah. Dan praktek semacam ini bukanlah hal yang asing di kalangan sahabat. Sahabat juga pernah menjadikan paman nabi sebagai mediator doa mereka.

Baca Juga: Meluruskan Maksud Hadits ” Kullu Bid’atin Dholalah “

Kemudian, Tauhid asma’ was Sifah ini juga bermasalah. Dengan tauhid ini Wahabi kerap kali menyamakan Allah dengan mahluknya, padahal sudah jelas sekali bahwa tidak ada satupun yang menyerupai Allah karena Allah itu mukhalafatu lil hawaditsi. Akibat dari Tauhid ini Wahabi meganggap bahwa Allah bersemayam di ‘Arsy. Paham ini merupakan sempalan dari paham Mujassimah yang divonis sesat oleh kalangan ulama.

Lebih dari hal itu, ulama juga mengatakan bahwa wahabi ini sebenarnya adalah Neo Khawarij. Khawarij sendiri adalah paham sesat yang berkembang di era Khalifah Sayyidina Ali.

Letak kesamaan antara Wahabi dan Khawarij adalah mereka sama-sama gegabah dalam menuduh kafir seseorang yang memiliki ideologi berbeda. Khawarij pernah mengafirkan Sayidina Ali lantaran berbeda pemahaman dengan mereka. Wahabipun demikian, mereka tidak segan-segan menuduh kafir orang yang berbeda dengan mereka.

Akhiran, kita perlu berhati-hati dengan sekte yang memiliki kesamaan ciri-ciri dengan Wahabi: sekte yang mudah menuduh bidah dan kafir. Kita juga harus perlu tetap memeluk dan mendukung Aliran Ahlussunah wal Jamaah. Dalam konteks saat ini, Ahlussunah wal Jamaah adalah aliran yang mengikuti salah satu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *